Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 27 Maret 2012 | By: Ahmad's

Kisah Ahmad Sutisna


MENGEJAR MIMPI
Jika Aku Menjadi Seorang Pemimpin
Catatan ini terinspirasi oleh Pa Dadang



Disusn Oleh :
AHMAD SUTISNA
(120 940 3005)
Manajemen Dakwah
Fakultas dakwah dan Komunikasi
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2013

Pengantar
Menggapai sukses pribadi dan kelompok merupakan perjalanan hidup panjang yang penuh dengan cobaan dan kekeliruan. Catatan ini merupakan kisah perjalanan hidup pibadi penulis dan impian-impian penulis yaitu “Jika Aku Menjadi Seorang Pemimpin”, banyak pelajaran-pelajaran hidup yang penulis lalui dan semoga catatan sederhana ini dapat menjadi dorongan yang memotivasi penulis untuk selalu berada pada tahapan tujuan-tujuan yang di cita-citakan oleh penulis dalam mengejar impian-impiannya.
Teringat sebuah hadis Rasulallah yang mengatakan bahwa : “ Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” Terdapat pula sebuah hadis yang mengatakan bahwa wajibnya menunjuk seorang pemimpin diantara tiga orang yang melakukan perjalanan.” Dari kutipan hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap orang adalah pemimpin baik pemimpin masyarakat maupun pemimpin bagi dirinya sendiri dan kelak kepemimpinannya tersebut akan dipertanggung jawabkan di kemudian hari. Oleh karena itu Pemimpin mempunyai tugas yang sangat berat yaitu untuk mensejahterakan anggotanya. Maka sudah menjadi seharusnya seorang pemimpin dapat menaungi anggotanya dan mengatasi permasalahan intern anggotanya juga dapat memfasilitasi penyaluran potensi-potensi yang dimiliki oleh bawahannya tersebut.
Catatan sederhana ini disusun sebagai pemenuhan salah satu tugas mata kuliah Kepemimpinan Islam,yang berisikan tentang bagaimana Jika Aku Menjadi Seorang Pemimpin,dalam catatan ini ditambahkan dengan kata-kata bijak dari para tokoh sebagai motivasi bagi penulis, semoga catatan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khususnya bagi penulis. Kesempurnaan hanyalah milik Allah semata, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran pembaca demi perbaikan di kemudian hari.
Mulailah setiap hari dengan pemikiran yang memberikan inspirasi” (Anonim)

Bandung, Desember 201
Penulis


1
Pada Mulanya...
            Pada mulanya, 21 tahun yang lalu saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana di sebuah desa yang katanya dulu penduduknya masih sedikit, tepatnya yaitu di Desa Cijantung Kabupaten Purwakarta. Seorang bayi laki-laki kecil mungil terlahir tanpa sehelai benangpun menutupinya, dengan lumuran darah nipas seorang ibu dan ari-ari yang masih menempel pada pusarnya, saya hanya bisa menangis dan menangis tanpa tahu harus berbuat apa di kala itu. ketika itu saya hanya pasrah meratapi dunia yang baru saja dijajaki, dunia yang akan membuat manusia dengan berbagai macam sifat, karakter dan kepribadian seorang manusia. Dunia yang akan melahirkan seorang pecundang, pemberani bahkan seorang pemimpin.
            Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya, mau diapakan anak tersebut tergantung kepada kedua orang tuanya, karena anak adalah dambaan hati dan belahan jantung setiap orang tua, setiap anak selalu ditunggu-tunggu kehadiranya di tengah keluarga dan tentu setiap orang tua menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang berguna bagi keluarga, masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu ketika saya berusia lima tahun saya dimasukan ke sebuah Taman Kanak-kanak oleh orang tua saya, agar kelak saya menjadi anak yang berguna. Usia tujuh tahun saya mulai memasuki Sekolah Dasar (SD) tepatnya SDN Sukatani, di sekolah dasar itulah saya mulai diajarkan menulis,menggambar dan berhitung juga dikenalkan pada yang namanya Cita-cita.
            Enam tahun lamanya saya menempuh bangku Sekolah Dasar dengan prestasi yang cukup membahagiakan, karena dari mulai kelas 1 sampai kelas 6 saya menduduki peringkat pertama setiap tahunnya. Namun sayangnya ketika kelulusan terakhir prestasi saya menurun menjadi peringkat ke-3, penurunan prestasi tersebut sepertinya sengaja saya lakukan karena sikap iri saya pada teman-teman saya yang prestasinya di bawah saya namun selalu dibelikan mainan dan apapun permintaannya selalu diusahakan berbeda dengan saya, yang tidak diberikan apapun oleh kedua orang tua saya walaupun saya selalu menduduki peringkat pertama. Tapi saya sadar akan kondisi ekonomi keluarga saya yang kurang mencukupi, dan sayapun terancam tidak bisa melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama alasanya karena kondisi ekonomi.
            Dengan semangat dan keinginan yang mantap untuk melanjutkan sekolah, saya meyakinkan kedua orang tua saya agar bisa melanjutkan sekolah. Dengan mantap saya bilang “Bu, izinkan saya melanjutkan sekolah, insyaAllah saya akan berusaha untuk hidup mandiri”. Dengan nada terharu dan linangan air mata akhirnya ibu sayapun mengizinkan saya untuk melanjutkan sekolah.
Kenyataan apa pun yang ada di hadapan kita tidaklah sepenting bagaimana sikap kita menghadapinya, karena sikap tersebut akan menentukan keberhasilan atau kegagalan kita.” (Norman Vincent Peale)

2
Cita-Citaku...
            Waktu masih duduk di bangku sekolah dasar aku bercita-cita ingin menjadi pilot, karena kebanyakan teman saya bercita-cita menjadi seorang pilot katanya agar bisa mengelilingi dunia. Dengan harapan Mudah-mudahan suatu saat nanti aku bisa mengelilingi dunia, belajar pengetahuan dari negara-negara lain dan meninggalkan hiruk pikuk negri ini yang sudah tak karuan. Menjadi seorang pilot memiliki tanggung jawab yang sangat besar dan berhubungan dengan nyawa dirinya juga orang lain, seorang pilot adalah pemimpin bagi para penumpangnya. Sampai tidaknya ke tempat tujuan tergantung pada kepemimpinan pilot tersebut. Pilot juga menjadi tumpuan kehidupan para penumpangnya ketika melakukan penerbangan sebelum berlandas ke tempat tujuan. Tapi cita-cita waktu kecilku tersebut kandas di tengah jalan sebelum pesawat turun landas di tempat tujuan karena saya tidak berminat lagi menjadi seorang pilot, ketika banyak pilot-pilot di Negeri ini banyak yang berjatuhan.
            Cita-citaku berubah ketika aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan aku ingin menjadi seorang pengusaha waktu itu. Kenapa aku bercita-cita ingin menjadi seorang pengusaha karena pada usia yang masih relatif remaja aku sudah mulai mencoba hidup mandiri dengan menjadi kuli panggul di sebuah pasar dan berjualan kantong keresek, dengan pekerjaan seperti itulah aku bisa melanjutkan sekolah walaupun aku salah satu siswa yang mendapatkan beasiswa sampai pendidikan akhir di SMP tapi saya tidak mengandalkan hasil beasiswa saja, karena hasil beasiswa hanya memenuhi untuk biaya sekolah saja sedangkan untuk biaya transpot dan lain-lain tidak termasuk. Aku mulai bekerja di pasar dari mulai shalat shubuh sebelum berangkat ke sekolah dan setelah pulang sekolah. Seperti itulah hari-hari kujalani.
            Sejak mulai sekolah di SMP saya tinggal di pesantren, sejak itulah saya mulai hidup mandiri. Jauh dari orangtua dan teman-teman se kampung saya, di pesantren saya hanya ikut mengaji setelah ba’da magrib, di situlah saya mulai mempelajari pengetahuan agama. Banyak pelajaran yang saya dapat di pesantren. Terutama kemandirian yang saya rasakan masih sangat sulit, dan jauh dari kedua orangtua ternyata lebih sulit lagi,karena biasanya mau apa-apa tinggal minta, mau makan tinggal makan dan perlu apapun tinggal bilah “Mah”/”Pa”, mau A mau B apapun itu kalau orangtua masih mampu selalu diusahakannya.
            Dari pengalaman di pesantren inilah saya mendapat pelajaran bahwa segala sesuatu butuh usaha dan pengorbanan, seperti kedua orangtua mengorbankan waktu, pikiran, harta dan tenaga demi seorang anak yang dicintainya. Apalagi peranan seorang Ayah sebagai kepala kepala keluarga/ pemimpin dalam keluarganya. Ingin rasanya aku pulan kerumah memeluk ayah dan ibu saya yang telah membesarkan dan mendidik saya dari waktu masih bayi sampai sekarang. Sambil berlinang air mata teringat kedua orangtua saya hanya bisa berkata dalam hati “Pa...Mah..maafkn saya yang belum bisa membalas jasa-jasa yang telah kalian berikan kepada saya.
            Dari mulai saat itulah saya mulai berpikir, rajin belajar dan berusaha agar saya menjadi orang yang sukses di kemudian hari. Karena sebelum berangkat ke pesantren dengan tegas saya bilang kepada kedua orangtua saya untuk tidak usah memikirkan biaya pesantren dan sekolah saya. Di sekolah saya mengikuti organisasi intra yaitu Palang Merah Remaja (PMR), selain itu saya aktif di kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
            Di sinilah awal cerita saya bagaimana mengubah semua paradigma saya sehingga saya ingin menjadi seorang pemimpin dan bagaimana nanti jika saya menjadi seorang pemimpin. Dari mulai mengikuti pelatihan dasar kepemimpinan dan pelatihan-pelatihan tentang pemimpin yang menggembleng saya untuk memiliki jiwa kepemimpinan yaitu bagaimana saya bisa memahami sosok pemimpin yang baik dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan negaranya. Ternyata jadi seorang pemimpin itu susah-susah gampang karena pada dasarnya kita diciptakan di muka bumi ini menjadi seorang pemimpin.
            Pertama saya mulai menjadi pemimpin yaitu di kepengurusan intra sekolah tepatnya PMR, kala itu saya terpilih menjadi ketua PMR, karena masih pertama kali memimpin saya masih belajar dan meraba-raba bagaimana cara memimpin itu, lama kelamaan sayapun mulai terbiasa dan menikmati menjadi seorang pemimpin. Oleh karena itu ketika ada pemilihan ketua OSIS saya mencoba menyalonkan diri dan diusung oleh organ intra PMR, akhirnya saya terpilih menjadi ketua OSIS. Sungguh di luar pikiran, saya bisa terpilih menjadi ketua OSIS yang sangat di dambakan oleh semua siswa kala itu yaitu menjadi siswa no 1 di sekolah, bebagai aktifitas dan acara saya ikuti dan adakan.
            Dari pengalaman di SMP itulah saya terus bertekad untuk menjadi seorang pemimpin, tekad saya pun dibuktikan kembali ketika saya lulus dari SMP dan melanjutkan ke SMA, beruntung saya mendapatkan beasiswa kembali untuk melanjutkan sekolah menegah atas tepatnya yaitu di Madrasah Aliyah Negeri Purwakarta (MAN Purwakarta), demi melanjutkan pendidikan segala macam upaya saya kerjakan, karena pekerjaan di pasar sudah tidak memungkinkan lagi bagi saya, dengan berpikir keras saya memikirkan  pekerjaan apa yang cocok bagi saya yang penting itu halal, tanpa ada gengsi sedikitpun saya mencoba menjadi ojeg di dekat pesantren saya, dan sekali-kali saya menjadi tukang pakir di sebuah rumah makan, jualan bkoran sampai penjual makanan asongan di sebuah pom bensis pernah saya kerjakan. Semua itu saya lakukan demi cita-cita saya yang tinggi.
Karena saya selalu ingin menjadi pemimpin di MAN pun Saya mulai merencankan strategi untuk menjadi pemimpin, pertama saya mengikuti organisasi intra, tapi beda dengan organisasi yang pernah saya ikuti waktu di SMP, di SMA saya lebih memilih ikut Paskibra dan aktif disana, setelah aktitif satu tahun di Paskibra saya dipilih menjadi ketua Paskibra kala itu dan itulah kala ke-3 saya terpilih menjadi pemimpin, kemudian saya masuk Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) juga di SMA, saya selalu mengikuti segala aktifitas yang diadakan oleh OSIS tersebut, sehingga akhirnya ketika beranjak kelas 2 dan diadakananya perguliran kepemimpinan saya mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), saya mengikuti acara dengan serius, dari mulai pembukaan, materi sampai simulasi sidang saya ikuti. Dalam simulasi sidang terdapat kriteria calon ketua OSIS periode selanjutnya.
            Berbagai argumen dari para siswa saling bersautan saat sampai pada materi sidang tentang kriteria pencalonan ketua OSIS periode selanjutnya. Sayapun turut serta memberikan argumen dan akhirnya terjadilah kesepakatan untuk kriteria calon ketua OSIS.
Salah satu kriteria calaon ketua OSIS antara lain :
1.      Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME
2.      Bisa baca tulis Al-Qur’an
3.      Pernah mengikuti kepengurusan OSIS di periode sebelumnya
4.      Memiliki Visi dan Misi
5.      Berasal dari sekolah asal
6.      Dll.
Itulah diantara syarat-syarat menjadi ketua OSIS karena saya sekolah di Madrasah Aliyah Negeri Purwakarta, maka penekanan bisa baca tulis Al-Qur;an sangat diutamakan, karena saya tinggal di pesantren, baca tulis Al-Quran bukan menjadi masalah bagi saya.
            Tibalah agenda yang saya nantikan yaitu pencalonan ketua OSIS, dan sayapun mengajukan diri menjadi calon. Waktu itu yang mengajukan menjadi ketua OSIS ada sekitar kurang lebih sembilan orang dang yang lolos Verifikasi hanya tiga orang termasuk saya, orang yang beruntung bisa lolos dari ketentuan-ketentuan kriteria calon ketua OSIS.
            Calon ketua OSIS yang lolos verifikasi diberikan waktu 1 minggu untuk pencitraan mencari masa pendukung, dari mulai diadakannya dialogis setelah upacara hari senin sampai kampanye menycari dukungan masa saya ikuti, akhirnya tibalah pada saat pemilihan yaitu dengan cara pemungutan suara ke tiap kelas dengan diawali penyampaian Visi dan Misi, setelah semua suara terkumpul, pada pulang sekolah semua siswa di kumpilkan di lapangan upacara untuk menyaksikan penghitungan suara. Penghitungan suarapun berjalan lancar dan ramai dengan sorak sorai siswa pendukung dari pihak masing-masing. Detak jantungku pun berguncang keras ketika akhirnya aku terpilih menjadi ketua OSIS din MAN tersebut. Sujud syukur ku lakukan di depan para siswa kemudian penyampain sambutan dari ketua terpilih.
            Ternyata cita-citaku menjadi seorang pemimpin terapai dengan semangat, usaha dan kerja keras yang saya jalani.usaha menentukan hasil yang kita usahakan, walupun kepengurusan OSIS di SMA tidak akan sama dengan kepengurusan OSIS dengan SMP tapi saya coba untuk menjalaninya apapun yang akan terjadi akan saya hadapi. Saya selalu menyakinkan pada diri saya bahwa saya adalah seorang pemimpin dan setiap orang dilahirkan ke dunia ini adalah seorang pemimpin, dan seorang pemimpin harus mampu megarahkan dan memberiakan contoh yang baik bagi anggotanya karena kepemimpinan seseorang akan dipertanggung jawabkan kelak di kemudian hari.
3
Ketika Aku Menjadi...
            Dalam sebuah kelompok atau organisasi dibutuhkan adanya seorang pemimpin bagi kelompok/anggotanya, pemimpin mempunyai peranan yang sangat penting bagi sebuah organisasi. Setiap kelompok masyarakat diperlukannya seorang tokoh masyarakat atau pemimpin bagi masyarakatnya,dalam sebuah perusahaan pasti ada pemimpin perusahaannya yang akan memimpin karyawannya begitu pula dalam suatu organisasi pasti ada seorang pemimpin dalam organisasinya yang biasa disebut ketua dalam organisasi tersebut. Seorang pemimpin harus bisa menaungi aspirasi dari anggotanya dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anggotanya.
            Dalam catatan saya kali ini saya akan mencoba menuliskan tentang harapan saya Jika Saya Menjadi Seorang Pemimpin. Catatan ini akan saya awali ketika saya menjadi ketua PMR, sebelum saya menjadi ketua PMR saya mempunyai Visi dan Misi yaitu ingin memajukan PMR yang ada di sekolah saya sehingga terkenal sampai ke luar sekolah. Mungkin dulu dalam hati saya berkata Jika saya menjadi ketua PMR saya ingin mmajukan PMR yang ada disekolah saya terkenal oleh sekolah lain. Dan harapan itu saya implementasikan ketika saya terpilih menjadi seorang ketua PMR yaitu dengan cara melakukan pelatihan yang diikuti oleh siswa-siswa dari sekolah lain juga latihan besama ke sekolah lain. Selain itu saya juga melakukan kerjasama antar intra sekolah PMR tersebut dengan sekolah lain.
            Berbagai macam upaya saya lakukan, walaupun tataran teknis tidak akan persis sama seperti tataran konsep yang saya pikirkan, tapi setidaknya ada upaya yang saya lakukan untuk memajukan PMR tersebut dan harapan saya tersebut tersalurkan dengan terlibaatnya saya menjadi ketua PMR tersebut. Selain itu harapan saya menjadi ketua PMR yaitu ingin masuk ke kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan menjadi ketua OSIS di sekolah saya tersebut.
            Akhirnya setelah saya menjadi ketua PMR saya diusung untuk mencalonkan diri menjadi ketua OSIS dan memang itu yang menjadi harapan saya sebelum saya masuk di kepengurusan PMR. Dalam hati saya berkata “Jika Saya Menjadi Ketua OSIS saya ingi dan memajukan prestasi di sekolah saya” . impian saya terwujud ketika saya terpilih menjadi ketua OSIS dan saya mempunya Visi dan Misi untuk memperbaiki akhlak siswa sekolah saya tepatnya Mts N Purwakarta. Karena saya rasa ketika itu banyak teman saya yang sering bolos sekolah dan kerjaannya Cuma main-main saja dan cenderung meninggalkan shalat.
            Jika saya menjadi ketua OSIS saya pernah berpikir ingin membuat kelompok mengaji dan melaksanakan pengajian bersama tiap kelas sebelum pelajaran pertama dimulai. Harapan saya pun terwujud dengan terpilihnya saya menjadi ketua OSIS dan program saya itu mendapat respon yang sangat baik dari para guru terutama pembina OSIS saya. Selain melaksanakan program di dalam sekolah saya juga mempunyai harapan untuk memperkenlkan sekolah saya ke sekolah luar yaitu dengan cara melakukan LATGAB (latihan gabungan ) antar organ intra sekolah.
            Ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama tepatnya Madrasah Aliyah Negeri Purwakarta (MAN Purwakarta) saya mempunyai harapan yang sama ketika masuk di organisasi PMR tapi di MA saya bukan masuk PMR akan tetapi ingin merasakan suasana yang berbeda yaitu dengan memasuki organisasi Paskibra. Harapan saya ketika masuk paskibra saat itu ialah ingin menjadi ketua di paskibra tersebut dan menjadi ketua OSIS di MA tersebut, semua itu saya jalani dengan kerja keras dan usaha untuk mencapainya sehingga harapan saya tercapai dan menjadi ketua Paskibra. Setelah saya menjadi ketua Paskibra saya menjalankan program-progran yang pernah saya buat, yaitu latihan gabungan dan latihan rutin seminggu sekali dan program tahunan yaitu mendelegasikan anggota paskibra untuk mengikuti seleksi paskibraka.
            Harapan saya masuk kepengurusan paskibra yaitu selain ingin menjadi ketua di organisasi paskibra saya juga ingin menjadi ketua OSIS di MA tersebut, dan ketika LDKS dan perguliran kepengurusan ketua OSIS saya mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. Akhirnya sayapun terpilih menjadi ketua OSIS di MA tersebut, banyak harapan saya ketika menjadi ketua OSIS di sekolah tersebut. Berbagai macam program baik dari intern seolah juga sampai kerjasama dengan sekolah lain saya kerjakan. Saya mengadakan kultum bergiliran sebelum memasuki pelajaran pertama, selain itu latihan gabungan antar organisisasi intra dilakukan semingu sekali tepatnya tiap hari jum’at.
            Sebelum menjadi ketua OSIS harapan saya jika saya menjadi ketua OSIS yaitu ingin melanjutkan kerjasama dengan sekolah lain yang sudah saya jalin ketika saya menjadi ketua OSIS di SMP, selain itu juga saya ingin meningkatkan prestasi di sekolah dan prestasi masing-masing organisasi intra sekolah. Dengan berbagai upaya saya lakukan untuk mewujudkan harapan saya sebelum menjadi pemimpin, dan setelah menjadi pemimpin saya tinggal menjaankan program-program yang telah saya rancang untuk dijalankan di kepengurusan saya kali ini.
            Itulah pengalaman saya menjadi pemimpin ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Banyak pengalaman dan pelajaran yang dapat saya ambil, dari mulai merasakan hidup mandiri, sampai bagaimana cara bersikap yang baik menjadi seorang pemimpin juga melakukan segala upaya dan kerja keras untuk mewujudkan cita-cita yang saya harapkan. Kepemimpinan merupakan hal yang sangat sulit dilakukan, membutuhkan kerja keras dan tanggung jawab yang besar. Kepemimpinan bukan hanya dipertanggung jawabkan didunia melainkan akan di pertanggung jawabkan kelak di Akhirat.
            Dari pengalaman-pengalaman dan pelajaran yang saya ambil itulah saya tidak pernah berhenti untuk menjadi seorang pemimpin, saya selalu ingin menjadi pemimpin dalam segala hal. Setelah pelulusan sekolah saya ingin melanjutkan pendidkan ke perguruan tinggi, namun keinginanku melanjutkan ke prguruan tingi tidak tercapai karena persoalan biaya yang tidak mencukupi. Dengan semangat dan kerja keras aku berpikir bagaimana cara agar aku bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
            Maka setelah pelulusan saya kesana kemari melamar pekerjaan dengan harapan tahun depan saya bisa membiayai biaya kuliah saya. Akhirnya dengan waktu yang tak lama saya diterima bekerja di salah satu perusahaan minimarket yaitu PT ALFARIA TRIJAYA, cabang dari PT ini yaitu Alfamart yang sering kita jumpai di titik-titik ramai perkotaan bahkan sekarang sudak membuka cabang sampai kepedesaan. Waktu itu saya melamar di Alfamat sebagai seorang pramuniaga, orang seng melayani customer ketika belanja, juga membersihkan ruangan dan menata barang. Itulah pekerjaan saya setiap harinya.
            Di perusahan tersebut ada tingkatan-tingkatan untuk menempuh karir yang lebih baik, dan tingkatan yang paling bawah yaitu Pramuniaga atau Pelayan, setelah itu ialah Mercandeser kemudian Asisten Kepala Toko, Kepala toko dan masih banyak tingkatan untuk menempuh jenjang karir yang lebih baik. Semua tingkatan itu dapat kita capai apabila kita bekerja dengan disiplin baik dan memiliki inovasi dalam perusahaan tersebut. Karena itulah saya giat bekerja, rajin dan disiplin, dengan harapan agar saya bisa naik ke level yang lebih tinggi. Strategi yang saya lakukan yaitu mendekati Owner dari koordinator cabang tempat saya bekerja, saya akrabi dia sampai dia percaya kepada saya. Dalam waktu empat bulan saya sudah dipromosikan menjadi Merchandeser dan itu merupakan waktu yang sangat cepat untuk naik jabatan, karena biasanya untuk menjadi menchandeser membutuhkan waktu bertahun-tahun. Akan tetapi saya hanya menempuh waktu empat bulan bekerja. Akhirnya sayapun menjadi MD disana dan saya selalu ingin lebih ke tingkatan selanjutnya.
            Setelah sepuluh bulan bekerja saya sudah kembali di promosikan menjadi Asisiten kepala toko oleh koordinator wilayah jababeka yang sudah percaya terhadap kinerja yang saya lakukan. Dia percaya bahwa saya sudah dapat memimpin di cabang tersebut. Sya bekerja di Alfamart yang berada di salah satu Rest Area tepatnya yaitu di kilometer 57 tol cipularang daerang kopel karawang, disanalah saya bekerja selama satu tahun lamanya, karena saya bekerja semata-mata ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saya pernah berencana agar bisa bekerja sambil kuliah. Berbagai informasi tentang perguruan tinggi say cari namun tidak ada yang sesuai dengan waktu pekerjaan saya karena di Alfamart waktu liburan tidak menentu sehingga saya tidak bisa bekerja sambil kuliah.
            Memang semua butuh pengorbanan, karena cita-cita awalku bekerja itu ingin melanjutkan kuliah, maka akhirnya saya memutuskan untuk resain/keluar dari pekerjaan tersebut, walaupun aku sudah menempati posisi yang sudah cukup nyaman dalam sebuah pekerjaan. Akhirnya dengan uang yang kutabung ketika bekerja aku mulai mendaptar ke perguruan tinggi yang ada di daerah saya. Aku mendaptar menjadi mahasiswa disana, tapi ketika itu aku bertemu dengan teman dekatku ketika di MA,dia mengajak atu untuk kuliah di Perguruan Tinggi Bandung tepatnya yaitu Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Walaupun sudah mendaftar di purwkarta akhirnya sayapun ikut denganteman saya mendaftar di Bandung.
            Cita-cita saya ketika sekolah akhirnya terwujud karena saya diterima di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung setelah melalui proses penyaringan calon mahasisiwa baru, interview dan testing. Saya lulus di jurusan Manajemen Dakwah (MD) yang sekarang saya jalani. Setelah di terima di UIN Bandung saya meminta izin kepada orangtua saya karena saya sudah keluar dari pekerjaan dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Bandung. Karena sudah percaya dengan saya orangtua saya mengijinkan saya sambil memeluk dan mencium kening saya. Baik-baik disana ya nak, rajin shalat dan mengaji itulah pesan orang tua saya yang masih terngiang di telinga saya sampai sekarang.

4
Perguruan Tinggi...
            Di Perguruan Tinggi UIN Sunan Gunung Djati Bandunglah saya melanjutkan pendidkan tinggi, seperti halnya di sekolah saya selalu aktif di organisasi-organisasi intra. Waktu itu saya ikut UKM Unit Pengembangan Tilawatil Qur’an (UPTQ) dan saya aktif di Organisasi Kedaerahan (ORDA). Di perguruan tinggi berbeda seperti halnya di sekolah karena di perguruan tinggi tidak ada yang dinamakan OSIS, maka saya mencari-cari info sekitar organisasi intra di perguruan tinggi UIN tersebut ternyata ada yang dinamakan Himpunan Mahasisiwa Jurusan (HMJ), Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Dewan Mahasiswa (DEMA). Itulah tingkatan yang ada di UIN bagi mahasiswa.
            Aku melakukan strategi kembali untuk meraih itu pertama aku menjadi kosma di jurusan MD, setelah menjadi kosma aku di delegasikan menjadi pengurus HMJ pada semester 2, bagian bidang Nalar dan Intelektual. Saya aktif di kepengurusan HMJ dan selalu menanyakan bagaimana cara agar menjadi Ketua HMJ-MD, pertama saya melakukan pencitraan dan memikirkan visi dan misi jika saya menjadi ketua HMJ nanti, akhirnya ketika diadakan nya muskom dan perguliran kepemimpinan saya ikut pada acara Muskom tersebut dan tibalah pada agenda yang saya tunggu yaitu pemilihan calon ketua HMJ-MD. Setelah saya mencalonkan dan lulus verifikasi, saya mulai mengikuti acara dialogis dan monologis, juga mengadakan kampanye secara terbuka di jurusan saya.
            Pemilihan HMJ-MD ternyata secaa terbuka dan diikuti oleh semua mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah yaitu dengan pengambilan suara, waktu yang menegangkan pun saya lalui, tibalah pada waktu pengitungan suara, kebetulan calon saat itu yang lolos persyaratan suma dua orang aku dan teman sekelasku. Akhirnya saya terpilih menjadi ketua HMJ-MD, setelah itu saya menyampaikan sambutan-sambutan kepada mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah. Dalam sambutan tersebut saya menyampaikan visi dan misi serta targetan dan tujuan yang sudah saya rancang sebelum saya menjadi ketua HMJ-MD antara lain yaitu :    


           
1.      Visi dan Misi
Visi :
Menjadikan HMJ-MD(Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah ) sebagai wadah pembentukan mahasiswa(i) MD menjadi kaum intelek yang kreatif serta dapat berpikir secara rasional dan cerdas.

Misi :
HMJ-MD periode sekarang akan senantiasa menyelenggarakan kegiatan yang mendukung terbentuknya Mahasiswa MD menjadi kaum intelek yang kreatif, mempunyai daya nalar dan rasa sosial yang tinggi dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan serta keorganisasian.
·      Tujuan dari Visi :
“ Menjadikan HMJ-MDSebagai Asfiratif dalam sosial kemasyarakatan kampus yang menumbuhkembangkan mahasiswa MD sebagai insan akademik yang berintelektual dan spiritual serta berkontribusi kepada masyarakat masa depan yang professional ”
Menjadi organisasi yang progresif dan proaktif dalam membina, memberdayakan, dan membangun karakter masyarakat MD “
·      Tujuan dari Misi :
1.    menumbuhkembangkan mahasiswa yang peduli pendidkan dan lingkungan
2.    menjadikan HMJ-MDsebagai wadah pengembangan potensi dan kreativitas serta kemajuan mahasiswa dalam segala bidang
3.    mewujudkan mahasiswa yang religius dan ilmiah serta mampu memberikan kontribusi positif  kepada masyarakat kampus maupun masyarakat luas khususnya kepada Manajemen Dakwah
4.    Membangun komunikasi dan koordinasi yang baik antar lembaga.
5.    Membantu visi dan misi HMJ-MD.
6.    Membuka link yang banyak.
7.    Membuka pintu lebar-lebar, menerima kritik dan saran dari 
8.    Mempererat tali persaudaraan antar mahasiswa MD.
9.    Memacu kreativitas, aktivitas, dan profesionalisme mahasiswa MD.

Target Prestasi Organisasi :
1.    HMJ-MD dikenal oleh lingkungan eksternal.
2.    Memberikan pelayanan bagi anggota dan kader dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia.
3.    Sebagai HMJ percontohan.
Cara mencapai :
1.    Mengadakan seminar, pelatihan, lomba, yang berhubungan dengan kebutuhan 
2.    Menyediakan wadah belajar dan berdiskusi bersama.
3.    Menyelenggarakan Study Banding ke HMJ di Universitas lain.
Itulah diantara isi dari sambutan saya yang sudah saya rancang sebelum menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah (HMJ-MD).


6
Harapan...Jika Aku Menjadi Seorang Pemimpin
            Walaupun telah beberapa kali saya berpengalaman dalam memimpin sutu organisasi tapi saya selalu berharap suatu saat nanti saya menjadi pemimpin yang mampu menaungi kebutuhan rakyatnya/anggotanya dan bisa mengakomodasi semua aspirasi anggota saya, maka jika saya menjadi seorang pemimpin saya akan berusaha dengan sebaik mungkin untuk bisa menjadi pemimpin yang baik dan dapat mensejahterakan rakyatnya. Dari kecil aku sudah hidup mandiri dan selalu bekeja keras maka saya berharap jika suatu saat nanti saya bisa memimpin sebuah perusahaan, dan jika saya menjadi pemimpin dalam suatu peusahaan saya akan meningkatkan poduktifitas perusahaan tersebut dan meningkatkan daya jual suatu perusahaan sehingga perusahaan yang aku pimpin menjadi perusahaan yang maju dan berkembang.
            Selain berjiwa usaha saya juga ingin menjadi pemimpin rakyat, dan jika aku menjadi pemimpin rakyat, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa menaungi rakyat yang saya pimpin dan berusaha mensejahterakan rakyat yang saya pimpin. Dan suatu saat nanti jika saya menjadi seorang peminpin saya ingin menjadi pemimpin yang sukses dan menjadi pemimpin yang disegani oleh anggotanya juga dapat menerima masukan dari anggotanya dan mampu mengambil keputusan dengan bijaksana.

Wallahul Muwafiq Illa Aqwamitharieq
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Bandung, Desember 2011

Penulis
                        
Selasa, 19 April 2011 | By: Ahmad's

Fungsi Masjid Sebagai Sarana Pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN
       Mesjid adalah rumah tempat ibadah umat Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan mesjid yang berukuran kecil disebut musholla, langgar atau surau. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan-kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.
Selain itu mesjid juga merupakan sarana pendidikan Islam karena bagaimanpun Penyelenggaraan pendidikan agama Islam dan perkembangannya tidak terlepas dari jasa besar masjid. Hidup sebagai muslim tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masjid, karena beberapa ibadah wajib diantaranya harus dilaksanakan di masjid. Ibadah tersebut juga berarti praktek pendidikan agama Islam yang sudah kita dapat sejak kecil, seperti sholat berjamaah dan sholat jum’at.
Salah satu fungsi masjid dalam islam adalah sebagai tempat pendidikan dan pengajaran. Beberapa masjid, terutama masjid yang didanai oleh pemerintah, biasanya menyediakan tempat belajar atau sekolah, yang mengajarkan baik ilmu keislaman maupun ilmu umum. Sekolah ini memiliki tingkatan dari dasar sampai menengah, walaupun ada beberapa sekolah yang menyediakan tingkat tinggi. Beberapa masjid biasanya menyediakan pendidikan paruh waktu, biasanya setelah subuh, maupun pada sore hari. Pendidikan di masjid ditujukan untuk segala usia, dan mencakup seluruh pelajaran, mulai dari keislaman sampai sains. Selain itu, tujuan adanya pendidikan di masjid adalah untuk mendekatkan generasi muda kepada masjid. Pelajaran membaca Qur'an dan bahasa Arab sering sekali dijadikan pelajaran di beberapa negara berpenduduk Muslim di daerah luar Arab, termasuk Indonesia.
Salah satu contoh masjid yang digunakan sebagai sarana pendidikan adalah pada masa khalifah Abbasiyah, dimana masjid digunakan sebagai tempat pertemuan ilmiah bagi para sarjana dan ulama. Selain itu Masjidilharam misalnya, masjid ini selain digunakan sebagai tempat ibadah juga digunakan untuk mendalami ilmu-ilmu agama berbagai madzhab.
Adapun fungsi masjid yang ada di pedesaan cuman sebatas sarana untuk beribadah seperti, shalat, mengaji saja, dan belum banyak yang menjadikan mesjid di pedesaan/pedalaman sebagai tempat pendidikan yang sudah berkembanga saat ini.
BAB II
PEMBAHASAN
Mesjid adalah rumah tempat ibadah umat Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan mesjid yang berukuran kecil disebut musholla, langgar atau surau. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan-kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

a. Masjid dalam tinjauan Etimologi
Masjid berarti tempat bersujud. Akar kata dari masjid adalah sajada dimana sajada berarti sujud atau tunduk. Kata masjid sendiri berakar dari bahasa Aram(bahasa semitik). Kata masgid (m-s-g-d) ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke 5 Sebelum Masehi. Kata masgid (m-s-g-d) ini berarti "tiang suci" atau "tempat sembahan". Kata masjid dalam bahasa Inggris disebut mosque. Kata mosque ini berasal dari kata mezquita dalam bahasa Spanyol. Dan kata mosque kemudian menjadi populer dan dipakai dalam bahasa Inggris secara luas.

b. Masjid Pertama
Ketika Nabi Muhammad saw tiba di Madinah (622 M. bertepatan pada bulan rabi’ul awal tahun pertama hijriayah), beliau memutuskan untuk membangun sebuah masjid, yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Nabawi –atau lebih dikenal masjid Madinah-, yang berarti Masjid Nabi. Masjid Nabawi terletak di pusat Madinah. Masjid Nabawi dibangun di sebuah lapangan yang luas. Di Masjid Nabawi, juga terdapat mimbar yang sering dipakai oleh Nabi Muhammad saw. Masjid Nabawi menjadi jantung kota Madinah saat itu. Masjid ini digunakan untuk kegiatan politik,diskusi, perencanaan kota, menentukan strategi militer, dan untuk mengadakan perjanjian. Bahkan, di area sekitar masjid digunakan sebagai tempat tinggal sementara oleh orang-orang fakir miskin. Saat ini, Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsa adalah tiga masjid tersuci di dunia.
C. Masjid sebagai sarana pendidikan
Salah satu fungsi masjid dalam islam adalah sebagai tempat pendidikan dan pengajaran. Beberapa masjid, terutama masjid yang didanai oleh pemerintah, biasanya menyediakan tempat belajar atau sekolah, yang mengajarkan baik ilmu keislaman maupun ilmu umum. Sekolah ini memiliki tingkatan dari dasar sampai menengah, walaupun ada beberapa sekolah yang menyediakan tingkat tinggi. Beberapa masjid biasanya menyediakan pendidikan paruh waktu, biasanya setelah subuh, maupun pada sore hari. Pendidikan di masjid ditujukan untuk segala usia, dan mencakup seluruh pelajaran, mulai dari keislaman sampai sains. Selain itu, tujuan adanya pendidikan di masjid adalah untuk mendekatkan generasi muda kepada masjid. Pelajaran membaca Qur'an dan bahasa Arab sering sekali dijadikan pelajaran di beberapa negara berpenduduk Muslim di daerah luar Arab, termasuk Indonesia. Kelas-kelas untuk mualaf, atau orang yang baru masuk Islam juga disediakan di masjid-masjid di Eropa dan Amerika Serikat, dimana perkembangan agama Islam melaju dengan sangat pesat. Beberapa masjid juga menyediakan pengajaran tentang hukum Islam secara mendalam. Madrasah, walaupun letaknya agak berpisah dari masjid, tapi tersedia bagi umat Islam untuk mempelajari ilmu keislaman. selain dalam bentuk sekolah masjid juga berguna untuk pengajaran majelis ta’lim.
Salah satu contoh masjid yang digunakan sebagai sarana pendidikan adalah pada masa khalifah Abbasiyah, dimana masjid digunakan sebagai tempat pertemuan ilmiah bagi para sarjana dan ulama. Selain itu Masjidilharam misalnya, masjid ini selain digunakan sebagai tempat ibadah juga digunakan untuk mendalami ilmu-ilmu agama berbagai madzhab.
Adapun di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, masjid berfungsi sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah shalat, mengajar al-Qur’an bagi anak-anak, dan memperingati hari-hari besar islam. Di daerah perkotaan, selain fungsi tersebut, masjid juga digunakan untuk pembinaan generasi muda islam, ceramah, diskusi keagamaan dan perpustakaan.
Penyelenggaraan pendidikan agama Islam dan perkembangannya tidak terlepas dari jasa besar masjid. Hidup sebagai muslim tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masjid, karena beberapa ibadah wajib diantaranya harus dilaksanakan di masjid. Ibadah tersebut juga berarti praktek pendidikan agama Islam yang sudah kita dapat sejak kecil, seperti sholat berjamaah dan sholat jum’at.
Masjid disamping sebagai tempat ibadah juga sebagai pusat kegiatan umat Islam. Masjid juga digunakan oleh Rasulullah SAW sebagai kegiatan sosial dan politik menyusun strategi perang.
Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan masjid sebagai tempat ibadah mahdhah saja, tetapi kegiatan lainnya yang berurusan dengan kepentingan umat.
Orang boleh saja meragukan masjid sebagai pusat aktivitas agama Islam di era global ini. Pendidikan tentang agama Islam dan aktivitas agama Islam diperoleh dan dapat dilakukan di banyak tempat, tidak hanya di masjid saja. Prinsipnya, jika dilihat dari beberapa ketentuan agama mengenai masjid, umat Islam tidak dapat dipisahkan dengan masjid. Sejarah membuktikan kalau masjid sebagai awal pusat pendidikan agama Islam.
Masjid juga sudah ditakdirkan menjadi rumah Allah SWT dan milik umat Islam dimanapun berada. Keberadaan masjid bukan hanya menjadi kebutuhan sebagai sarana ibadah, tetapi keberadaan masjid juga wajib adanya pada suatu wilayah yang ada umat muslimnya.
Mayoritas penduduk kabupaten Kebumen adalah muslim. Desa-desa di kabupaten Kebumen ini minimal terdapat satu bangunan masjid pada setiap desanya. Desa yang wilayahnya luas dan berpenduduk banyak/padat, bahkan tidak hanya terdapat satu bangunan masjid. Desa Jemur kecamatan Kebumen adalah contoh desa yang mempunyai dua bangunan masjid. Masih banyak desa lain yang mempunyai masjid lebih dari satu, misalnya di desa Karangsari Kebumen, terdapat enam bangunan masjid.
Keberadaan masjid jauh lebih sedikit dibandingkan keberadaan Musholla. Musholla lebih banyak, disebabkan karena dapat didirikan pada setiap tempat dimanapun minimal sebagai tempat sholat saja. Musholla bisa didirikan disetiap komplek RT, komplek RW, komplek perkantoran, bahkan rumah kita masing-masing. Keberadaan mushalla, tidak untuk menunaikan shalat jum’at. Desa Jatimulyo Alian Kebumen, adalah contoh desa yang mempunyai tujuh bangunan musholla milik masyarakat dan tiga bangunan masjid. Kenyataan yang ada, musholla dalam menyelenggarakan pendidikan agama Islam maupun sebagai tempat ibadah umat Islam tidak berbeda dengan di masjid, secara prinsip kegiatan musholla bermula dari bagaimana konsep memakmurkan masjid.
Keberadaan bangunan masjid dalam Islam terdapat persyaratan tertentu, misalnya batas-batas wilayah dan minimal ada empat puluh orang untuk mendirikan sholat Jum’at. Masjid juga tidak boleh didirikan pada satu komplek dalam satu batas wilayah yang kecil.
Bangunan masjid semakin banyak seiring dengan bertambah banyaknya penduduk di Indonesia dan semakin banyaknya pembangunan komplek perumahan. Semakin banyaknya masjid dan tuntutan mendirikan masjid menunjukkan bahwa masjid sangat berpotensi untuk menjadi pusat pendidikan agama Islam dan pusat peradaban yang menyertai perkembangan kehidupan umat Islam sepanjang masa.
Makmurnya masjid juga berimplikasi pada terpenuhinya jama’ah akan pendidikan agama Islam dan tempat pembinaan umat.
Pendidikan agama Islam di masjid pada umumnya dilaksanakan secara konservatif atau tradisional. Pendidikan agama Islam dengan cara tradisional adalah dengan metode bandungan atau sorogan. Pengajar pendidikan di masjid dengan membaca dan didengarkan atau ditirukan oleh santri masjid, atau sebaliknya. Metode ini juga memungkinkan untuk terjadinya Tanya jawab antara santri masjid dengan seorang ustadz atau kyai masjid.
Pendidikan agama Islam di beberapa masjid di Kebumen ini juga mengalami perkembangan. Masjid yang melakukan pengembangan pendidikan agama Islam contohnya adalah masjid Nurul Iman desa Kawedusan, masjid desa panggel kelurahan panjer Kebumen. Komplek masjid-masjid tersebut juga dibangun sarana pendidikan dan organisasi masjid seperti pengurus TPQ, dan tempat khusus untuk belajar Alquran. Keberadaan pondok pesantren juga berawal dari bentuk pengembangan pendidikan agama Islam di masjid. Masjid Jami’ Wonoyoso Kebumen adalah contoh bentuk pengembangan pendidikan agama di masjid berbentuk pondok pesantren, bahkan meluas kepada pendirian bangunan madrasah sebagai pendidikan formal.
Banyaknya fungsi masjid yang semakin meluas sebagai sarana pendidikan agama Islam secara lebih sistematis, tidak mengurangi kharisma masjid yang ada di desa-desa yang menyelenggarakan pendidikan secara tradisional.
Sejarah perkembangan masjid lebih banyak menyuguhkan kajian agama dari pada kegiatan sosial. Pendidikan agama Islam di masjid juga lebih banyak dari pada aktivitas pendidikan agama Islam pada lembaga pendidikan formal. Masjid pada setiap malam dapat menyelenggarakan pendidikan agama seperti pengajian kitab. Ada yang bersiafat harian, mingguan, sebulanan dan tahunan dan sepanjang waktu. Berbeda dengan penyelenggaran pendidikan dan aktivitas pendidikan agama Islam di madrasah atau sekolah. Institusi madrasah dan sekolah menyuguhakn materi pendidikan agama Islam dengan waktu yang sangat terbatas. Materi pendidikan agama Islam didapat dua sampai enam jam perminggunya dan dalam kurun waktu tiga tahun.
Pendidikan agama Islam yang di selelenggarakan di masjid., tidak terbatas oleh waktu. Konsep pendidikan seumur hidup, setiap saat bisa di dapat di masjid walaupun tidak dalam pengertian semua masjid. Begitu juga keberadaan masjid di desa dengan masjid di kota. Masjid di kota, pada umumnya aktivitas agama Islamnya terbatas, hal ini karena karakter masyarakat kota yang berbeda dengan karakter masyarakat perdesaan.
Sesudah negara Islam meluas, maka berkembanglah peran dan fungsi masjid. Sehingga ia berperan sebagai lembaga-lembaga ilmu pengetahuan dan tempat pengajaran segala macam pengetahuan, baik agama ataupun lainnya. Ketika Nabi Muhammad saw. berhijrah dari Mekkah menuju Yatsrib (Madinah) dan singgah di Quba, program yang pertama kali beliau laksanakan ialah mendirikan sebuah masjid yang kemudian beliau namakan dengan “Masjid Quba”. Masjid itu disebut oleh Allah swt. dalam firman-Nya: “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin mensucikan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih” (Q.S. At-Taubah/9: 108).
Hal ini dimaksudkan oleh Rasulullah agar menjadi tempat berkumpul bagi manusia guna menunaikan shalat, membaca kitab suci Al-Qur'an, berdzikir kepada Allah swt., saling bermusyawarah dalam urusan agama mereka, dan agar menjadi “Madhar”(manifestasi) bagi persatuan, kerukunan dan persaudaraan, dan menjadikan masjid menjadi tempat pendidikan, pengajaran dan tempat menyampaikan nasihat dalam masalah agama, akhlakul karimah. Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang masuk ke dalam masjid-ku ini guna mengajar kebaikan atau belajar (mencari ilmu), maka ia bagaikan orang yang berjuang menegakkan agama Allah” (H.R. Ibnu Majah).
Rasulullah saw. sendiri seringkali duduk di masjidnya, lalu dikerumuni oleh para sahabat secara melingkar, bagaikan bintang-bintang mengelilingi bulan purnama. Kemudian beliau menyampaikan ceramah, fatwa agama dan ajaran-ajaran lain kepada mereka. Dan jika beliau berhalangan maka diutusnya sahabatnya untuk mewakilinya seperti: Ubadah bin Shamit, Abi Ubadah bin al-Jarrah atau lainnya. Hingga kemudian di Madinah Rasulullah mendirikan masjid Nabawi yang juga berfungsi sebagai tempat pendidikan pertama kali yang beliau pergunakan untuk mengajarkan Qira'atul Qur'an, ilmu fiqh, syariat Islam dan berbagai ilmu pengetahuan, sehingga dapat menelurkan generasi-generasi militan, yang menjadi ulama, hukama, khulafa, umara dan pemimpin-pemimpin yang dapat diandalkan.
Sesudah negara Islam meluas, maka berkembanglah peran dan fungsi masjid. Sehingga ia berperan sebagai lembaga-lembaga ilmu pengetahuan dan tempat pengajaran segala macam pengetahuan, baik agama ataupun lainnya. Yang tampak menonjol sekali dalam hal ini antara lain ialah: Masjid-masjid Shan'a di Yaman, Al Jami' Al Umawi di Damsyik, Al Jami' Al-Azhar di Mesir, Jami' Az-Zaituniyah di Tunisia dan Masjid Qoeruwar di Fas. Kemudian berikutnya, para penguasa, umara dan para raja berlomba-lomba membangun tempat-tempat pendidikan dan lembaga ilmu pengetahuan yang dilengkapi dengan masjid dan asrama pelajar. Hal inilah yang akhirnya dapat membawa kejayaan ilmu dan kebudayaan Islam, dapat melahirkan beribu-ribu ulama yang intelek dalam berbagai bidang ilmu, seperti tafsir, hadits, ilmu falak, fiqh, usul fiqh, bahasa Arab, sastra Arab, kedokteran, olahraga, ilmu hitung, dan lain-lain.
Saat ini konsep sekolah-sekolah yang berada di sekeliling masjid, atau sekolah-sekolah yang dilengkapi dengan masjid dijadikan sebagai konsep sekolah-sekolah Islam terpadu dari segi arsitektur pembangunan sekolah-sekolah Islam terpadu. Bahkan di sekolah-sekolah negeri pun mulai terlihat adanya pembangunan masjid di tengah-tengah sekolah. Mengapa demikian?
Hikmah mendalam yang sebetulnya dapat kita petik dari langkah pertama yang dilakukan Rasulullah saw. di saat hijrah dengan membangun masjid Quba dan menjadikannya tempat untuk mendidik generasi Islam dan menyampaikan berbagai ilmu yang terkandung di dalam Al-Qur'an dan Hadits. Walaupun secara tidak langsung Rasulullah juga melakukan berbagai pendidikan dan pengajaran di tempat-tempat yang lain seperti, di rumah-rumah, di jalan, di pasar sampai di medan perang. Sesuai dengan ilmu dan ajaran yang akan disampaikannya.
Di dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam, masjid ibarat ruhnya atau qolbunya pendidikan. Karena pendidikan tidak hanya semata-mata mengetahui sesuatu hal yang baru, bukan hanya untuk mencapai jenjang yang lebih tinggi dan tidak juga hanya semata-mata mengejar nilai. Tapi Rasulullah telah mengajarkan kepada kita, nilai-nilai pendidikan yang hakiki untuk menjadikan manusia sebagai manusia seutuhnya (Insan Kamil/ Insan Paripurna)
Karena pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik sehingga dimensi kependidikan dapat berkembang secara optimal. Adapun dimensi kependidikan itu mencakup tiga hal, yaitu:
1. Afektif, yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti yang luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis. Dari masjid nilai-nilai hakiki ini ditanamkan oleh Rasulullah kepada umatnya dengan perintah menjalankan shalat, pelaksanaan shalat berjamaah dan hikmah-hikmah lain yang terkandung di dalam shalat berjamaah. Dan hal tersebut dimulai dari masjid.
2. Kognitif, yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang diwujudkan dengan perintah bertasbih dan membaca Al-Qur'an serta mempelajari kandungan-kandungan ilmu di dalamnya. Dan sejak zaman Rasulullah, para sahabat dan sekarang ini para ulama melakukannya di masjid. Karena inti ilmu pengetahuan itu ada di dalam Al-Qur'an.

3. Psikomotorik, yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis dan kompetensi kinestetis. Diwujudkan dengan berbagai kegiatan fisik di masjid dalam pelaksanaan kedua perintah-perintah di atas, juga pengembangan organisasi masjid, kegiatan fisik, rehabilitasi masjid dan pengembangan pembangunan fisik masjid memerlukan kemampuan keterampilan teknis. Dan masjid dapat menjadi tempat pendidikan ini.

Rasulullah di awal hijrahnya ke Madinah melakukan ketiga hal di atas secara baik dan tepat, sehingga menghasilkan generasi Islam yang berhasil mengembangkan syiar Islam ke seluruh penjuru dunia, sejak dulu hingga sekarang. Karena masjid merupakan ruhnya atau qolbunya pendidikan.
Sekolah-sekolah yang dibangun di seputar masjid dewasa ini menunjukkan bahwa tiga hal yang mendasar di atas dapat berjalan bersamaan. Siswa tidak hanya mengutamakan NEM dan kepandaian dalam olah ilmu pengetahuannya, tapi juga iman dan akhlakul karimah, serta kemampuan fisiknya dalam olah jasmani dalam berbagai kegiatan fisik yang dilakukan di sekolah. Inilah hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa saat awal hijrah Rasulullah saw. di atas. Karena itulah marilah kita makmurkan masjid-masjid sebagai rumah Allah dengan menjalankan shalat berjamaah di masjid, mengikuti pengajian-pengajian dan tadarus Al-Qur'an, serta melakukan kajian-kajian baik masalah akidah, syariah, dan ilmu pengetahuan dan akhlakul karimah. Baik itu masjid di lingkungan rumah kita masing-masing, maupun di lingkungan sekolah-sekolah kita. Apabila saatnya adzan terdengar sebagai panggilan shalat, maka semua kegiatan dihentikan untuk bersama-sama melaksanakan shalat berjamaah. Dengan demikian akan tercapailah tujuan pendidikan yang diharapkan.(AS)

DAFTAR FUSTAKA
Ahmad Asy-Syarbaasyi, Dialog Islam. Surabaya: 1997.
Hasanuddin,Hukum Dakwah, Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di
Indonesia, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996.
Moh E. Ayub, Menejemen Masjid, Jakarta: Gema Insani Press, 1997
Moh E. Ayub, Menejemen Masjid, Jakarta: Gema Insani Press, 1997.
Muhammad Natsir, Keputusan dan Rekomendasi Muktamar Risalah Masjid
se Dunia di Makkah, Jakarta, Perwakilan Rabitah Alam Islami ,
1395H.
Nana Rukmana D.W, Masjid dan Dakwah, Merencanakan, Membangun dan
Mengelola Masjid, Mengemas Substansi Dakwah,Upaca Pemecahan
Krisis Moral dan Spiritual, Jakarta: Almawardi Prima, 2002.
Quraish Shihab,M., Wawasan Al-Qur’an , Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai
Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 1996.
Sidi Gazalba, Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Pustaka
Antara, 1971.